Peringkat ketiga pada Porprov Bali 2025 bukanlah garis akhir bagi KONI Kabupaten Gianyar. Justru dari capaian tersebut muncul kesadaran bahwa mempertahankan prestasi jauh lebih sulit daripada meraihnya.
Kesadaran itulah yang membawa jajaran KONI Gianyar bertolak ke Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (31/7).
Bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi sebuah upaya mencari inspirasi dari daerah yang dikenal konsisten membangun olahraga melalui pembinaan atlet, kolaborasi lintas sektor, hingga pengembangan sport tourism.
Rombongan dipimpin Wakil Ketua Umum Bidang Humas dan Hukum Olahraga KONI Gianyar, I Made Arianta, didampingi Wakil Ketua Umum Bidang Pembinaan Prestasi Ngakan Putu Darmajati, Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Anak Agung Darmanegara, serta Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Gianyar I Wayan Wirasa.
Bagi Arianta, kunjungan ini lahir dari kesadaran bahwa tantangan Porprov Bali 2027 akan semakin berat. Kabupaten Buleleng yang finis di posisi keempat pada Porprov 2025 akan bertindak sebagai tuan rumah dan tentu memiliki keuntungan tersendiri.
"Karena itulah kami tidak boleh berpuas diri. Kami ingin belajar bagaimana daerah lain membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan. Target kami bukan hanya mempertahankan prestasi, tetapi terus meningkat," ujarnya.
Pandangan Gianyar ternyata sejalan dengan pengalaman Kota Malang. Di hadapan rombongan, Sekretaris Umum KONI Kota Malang, Joko Purwosusanto, mengakui bahwa menjadi tuan rumah bukan jaminan prestasi akan terus bertahan.
"Tahun 2025 kami menjadi tuan rumah, tetapi tahun 2027 pelaksanaannya di Surabaya. Artinya, kami juga harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan prestasi," katanya.
Yang menarik, kekuatan olahraga Kota Malang ternyata tidak hanya dibangun dari arena pertandingan.
KONI Kota Malang merangkul banyak elemen di luar cabang olahraga prestasi. Organisasi seperti Korpri, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Perwosi hingga Persatuan Atlet Master Indonesia tetap diberi ruang dalam ekosistem olahraga. Menurut Joko, wartawan menjadi mitra penting dalam membangun citra olahraga, sementara mantan atlet tetap menjadi bagian dari keluarga besar olahraga yang dapat menularkan pengalaman kepada generasi muda.
Pembinaan atlet juga dimulai sejak usia sekolah. Cabang olahraga secara rutin mendatangi SD dan SMP untuk memperkenalkan berbagai nomor pertandingan yang mungkin belum dikenal masyarakat. Cara ini membuka peluang lebih luas menemukan bibit atlet berbakat yang sebelumnya tidak tersentuh pembinaan.
Tak berhenti di sana, Kota Malang juga menggandeng perguruan tinggi. Atlet berprestasi dari berbagai daerah yang memilih kuliah di Kota Malang difasilitasi agar tetap dapat berlatih dan membela daerah tersebut.
Dengan demikian, pembinaan tidak terputus ketika atlet memasuki jenjang pendidikan tinggi.
Namun, yang paling mencuri perhatian rombongan Gianyar adalah bagaimana olahraga dijadikan penggerak ekonomi daerah.
Melalui konsep sport tourism, setiap kejuaraan tidak hanya menghadirkan pertandingan, tetapi juga menggerakkan sektor pariwisata, hotel, kuliner, UMKM hingga industri kreatif. Ribuan atlet beserta keluarga yang datang ke Kota Malang otomatis menciptakan perputaran ekonomi baru.
"Dengan olahraga yang berdampak pada perekonomian, dukungan pemerintah maupun dunia usaha menjadi semakin kuat. Itulah yang terus kami bangun," terang Joko.
Konsep tersebut menjadi catatan penting bagi Gianyar, daerah yang juga memiliki kekuatan besar di sektor pariwisata dan budaya.
Di sela kunjungan, rombongan juga diperkenalkan dengan perangkat Body Index Analysis (BIA), teknologi yang mampu mengukur komposisi tubuh atlet mulai dari massa otot, kadar lemak hingga cairan tubuh. Data tersebut menjadi dasar ilmiah dalam proses seleksi maupun evaluasi atlet sehingga pembinaan tidak lagi hanya mengandalkan pengamatan semata.
Bagi Gianyar, seluruh pengalaman itu menjadi bekal berharga. Terlebih saat ini pemerintah daerah tengah membangun gedung olahraga yang ditargetkan rampung pada akhir 2027. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat pembinaan atlet sekaligus modal saat Gianyar menjadi tuan rumah Porprov Bali 2029.
"Harapan kami, dengan fasilitas yang semakin baik, sistem pembinaan yang semakin matang, serta kolaborasi yang semakin luas, Gianyar tidak hanya mampu mempertahankan posisi tiga besar, tetapi naik ke peringkat kedua saat menjadi tuan rumah Porprov 2029," tutup Arianta.
Perjalanan ke Kota Malang mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun, bagi KONI Gianyar, perjalanan itu merupakan investasi gagasan. Sebab prestasi olahraga tidak lahir dalam semalam, melainkan dibangun dari keberanian belajar, kemauan berbenah, dan konsistensi mempersiapkan masa depan.